Tamat Sekolah Rakyat di Parakan, ia mengaji kepada K.H. Dalhar alias Mbah Dalhar (Pesantren Watucongol, Magelang), ulama besar yang pernah selama delapan tahun berkhalwat - mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah (berzikir dan tafakur) kepada Allah SWT - di Gua Hira, tempat Rasulullah SAW melakukan hal yang sama, beruzlah. Di sana dia dijemput oleh keluarganya dan tahun 1940 akhirnya Chudlori mengakhiri status lajangnya dengan menikahi putri Kiai Dalhar (Pengasuh Pondok Pesantren Watu Congol Muntilan). Setelah pernikahannya, Chudlori diminta mertuanya (Kiai Dalhar) tinggal dan mengajar di pesantren Watu Congol, Muntilan, 22 km barat daya Tegalrejo. Mbah Dalhar dilahir kan pada 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 - Je (12 Januari 1870 M) di Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Lahir dalam lingkungan keluarga santri yang taat. Lahir dalam lingkungan keluarga santri yang taat. Semasa kecil Mbah Dalhar, setelah ayahnya Abdurrahman melanjutkan kepemimpinan pesantren memindahkan pesantren ke wilayah Watucongol. Karenanya, sejak kecil Mbah Dalhar telah diarahkan oleh sang ayah dekat dengan kehidupan keagamaan dan mencintai ilmu-ilmu agama.Hingga masa remaja dan dewasanya, Mbah Dalhar yang lahir pada Rabu, 12 Januari 1870 beralih ke KH. Dalhar. Sepeninggal kyai Dalhar, pesantren pun dipimpin oleh KH. Ahmad Abdul Haq (mbah Mad Watucongol). Pada tahun 2010 KH. Ahmad Abdul Haq berpulang kemudian kepemimpinan pondok pesantren ini diasuh oleh tiga putra KH. Ahmad Abdul Haq. (Luqman, 2017). Gambar 2.1 menunjukkan peta lokasi pondok Pesantren Darussalam Watucongol. Kompleks makam Kyai Raden Santri terletak di sisi barat kota Muntilan, tepat di atas sebuh bukit yang sangat asri. Makam Gunung Pring secara administrasi berada di Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Namun demikian, secara asal-usul sejarah kepemilikian, makam kompleks makam ini merupakan milik Keraton Ngayojakarta Mbah Dalhar lahir di Watucongol, Muntilan, Magelang pada 12 Januari 1870 (10 Syawal 1286 H), dan diberi nama Nahrowi oleh ayahandanya, yakni Kyai Abdurrahman ibn Abdurrauf ibn Hasan Tuqo (yang juga salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro). Putra-putri Nabi (Qosyim, Abdullah, Ibrohim, Fatimah, Zainab, Ruqoyyah dan Ummi Kultsum). 7 Cbel8.

putra putri mbah dalhar watucongol